Tips Perawatan Kecantikan Dan Kesehatan

Informasi Pasang Iklan, Silahkan hubungi team advertising kami (Wa: 082165725806)

Seputar Kecantikan Wajah

Informasi Pasang Iklan, Silahkan hubungi team advertising kami (Wa: 082165725806)

Seputar Kesehatan Tubuh

Informasi Pasang Iklan, Silahkan hubungi team advertising kami (Wa: 082165725806)

Relationship

Informasi Pasang Iklan, Silahkan hubungi team advertising kami (Wa: 082165725806)

Serba-Serbi

Informasi Pasang Iklan, Silahkan hubungi team advertising kami (Wa: 082165725806)

Jumat, 08 September 2017

Seperti Ini Dampaknya Jika Orang Gemuk Terlalu Sering Di-bully

Menumbuhkan rasa percaya diri pada masalah kegemukan ternyata jauh lebih baik daripada menyalahkan mereka yang mengalami kegemukan atau "fat-shaming". Banyak studi menunjukkan bahwa diskriminasi justru tidak membuat masalah menjadi lebih baik.

Sponsor: jasa pembuatan Fanpage

Dilansir dari Healthline, Jumat (8/9/2017), sebuah penelitian terhadap 93 wanita menunjukkan bahwa stigmatisasi terhadap berat badan justru membuat wanita gemuk semakin stres. Akibatnya, mereka akan makan lebih banyak dan kesulitan mengendalikan pola makan mereka.

Dalam studi lain dengan 73 wanita yang memiliki berat badan berlebih, mereka yang menonton video yang mendiskriminasi justru terdorong untuk mengonsumsi 3 kali lebih banyak kalori dari yang biasa mereka konsumsi, daripada ketika peserta lain menonton video tanpa pesan diskriminatif.

Hal ini juga didukung oleh berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa diskriminasi yang bisa diterima orang gemuk dalam bentuk apa pun menyebabkan mereka menjadi lebih stres dan akhirnya mendorong keinginan makan lebih banyak.

Antara diskriminasi berat badan dan pemicu kegemukan sendiri juga berkaitan erat. Dalam sebuah penelitian terhadap 6.157 orang, peserta yang tidak obesitas namun mengalami diskriminasi berat, 2,5 kali lebih mungkin mengalami obesitas dalam beberapa tahun ke depan.

Diskriminasi terhadap kegemukan ini tidak hanya mendorong pola makan semakin buruk tapi juga depresi akibat perpanjangan stres yang diterima. Depresi, lebih buruk lagi, bisa mendorong seseorang untuk bunuh diri. Hal ini seperti ditemukan dalam studi 2013 yang dipublikasikan di US National Library of Medicine National Institutes of Health.

Studi tersebut mempelajari 2.436 orang dengan obesitas ekstrem. Kondisi mereka mendorong perilaku depresi berat 21 kali lipat dan risiko bunuh diri hingga 12 kali lipat.

Kata Para Pakar tentang Orang-orang Gemuk yang Mengaku Sehat

Istilah 'gemuk tapi sehat' banyak beredar di masyarakat. Ditambah lagi peranan media sosial yang membuat orang semakin percaya diri untuk mengekspos tubuhnya yang gemuk dan menyebutkan bahwa tidak apa-apa memiliki timbunan lemak di perut asalkan sudah menerapkan pola hidup sehat.

Sponsor: Jasa Pembuatan Fanpage

Sebenarnya, apakah yang disebut 'gemuk tapi sehat' itu benar-benar ada?

"Bukan mitos. Orang gemuk tapi sehat itu kalau sudah lama beratnya segitu dan sudah menjalankan pola hidup yang sehat," ujar dr Titi Sekarindah, SpGK, dari Rumah Sakit Pusat Pertamina Kebayoran Baru kepada detikHealth.

Menurut dr Titi, yang masuk kategori orang yang gemuk tapi sehat adalah orang yang memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) di angka 30 kg/m2, dan sudah menerapkan pola hidup sehat, tetapi tetap mengalami kesulitan menurunkan berat badan.

"Kalau susah ngitung pakai IMT, itung pake tinggi badan dikurang 100 aja deh. Katakanlah tingginya 160 cm tapi berat badan 80 kan kelebihan 20 tuh. Kalau dia bisa menurunkan 10 persen dari 80 kg itu (8 kg) dan menerapkan pola hidup sehat, itu udah saya anggap gemuk tapi sehat," ungkapnya.

Dengan menurunkan sepuluh persen dari bobot tubuh, dr Titi mengungkapkan ini akan menurukan risiko penyerta seperti diabetes atau hipertensi.

"Kalau dia bisa menurunkan lagi dari sepuluh persen itu bagus, tapi harus bertahap. Kalau turun banyak dia cepet naiknya karena kalorinya sedikit. Seminggu turun 5 kg, naiknya bisa 10 kg," jelasnya.

Sementara itu, diungkapkan oleh Prof Dr Hardinsyah, Ms, Guru Besar Ilmu Gizi Institut Pertanian Bogor, istilah gemuk tapi sehat bukanlah suatu hal yang tepat.

"Di mana pun, tidak ada bukti orang gemuk berakhir sehat. Kebanyakan lemak, radikal bebas, nanti mulai terjadi radang dan lemahnya imunitas. Dampaknya memang tidak sekarang tapi 5-10 tahun mendatang," tutur ketua umum PERGIZI PANGAN Indonesia tersebut.

Tapi, berat badan saja tidak bisa dijadikan indikator kelebihan berat badan. Dijelaskan oleh Prof Hardinsyah, ukuran gemuk dilihat dari timbunan lemak yang ada yang dapat diukur dengan alat khusus. Anda bisa melakukan konsultasi ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan tersebut.

"Kan kalo orang olahraga beda. Bisa jadi kerangkanya besar, ototnya banyak tapi lemaknya sedikit," pungkasnya.

★★★
Terima Kasih Sudah Membaca Artikel DariTipsperawatanwajahdantubuh Mohon Berikan Like,Comment, Atau Share Jika Informasi Yang Kami Sajikan Bermanfaat.

★★★
Mau memiliki kualitas iklan terbaik untuk meningkatkan omzet penjualanmu? Segera hubungiJasa Iklan Fanpage Kiella Digital Adv!

★★★
Ingin Konsultasi Atau Beriklan di Portal Berita Kami? Cukup Click Link berikut ini (http://m.me/Tipsperawatankecantikandankesehatan)